Rabu, 01 Juni 2011

Sejarah batik dan Kota Tasikmalaya

Sekarang ini kata batik sudah banyak dikenal di luar negeri. Baik wanita maupun pria Indonesia dari berbagian suku gemar memakai bahan pakaian yang dihiasi pola batik ataupun kain batiknya sendiri, yang dibuat dan digunting menurut selera masing masing. Para turis asing ataupun pejabat-pejabat asing yang tinggal di Indonesia pun sangat gemar akan batik dan sering membawanya pulang sebagai oleh-oleh.

Sesudah menyebut semuanya ini, tentu timbul pertanyaan apakah sebenarnya batik ini. 
Dalam tulisan ini saya mencoba menjelaskan secara ringkas tentang arti batik, cara membatik serta sejarah perkembangan batik.

Arti kata batik

Para sarjana ahli seni rupa, baik yang berkebangsaan Indonesia maupun yang bangsa asing, belum mencapai kata sepakat tentang apa sebenarnya arti kata batik itu. Ada yang mengatakan bahwa sebutan batik berasal dari kata "tik" yang terdapat di dalam kata titik. Titik berarti juga tetes. Memang di dalam membuat kain batik dilakukan pula penetesan lilin di atas kain putih. Ada juga yang mencari asal kata batik di dalam sumber-sumber tertulis kuno. Menurut pendapat ini, kata batik dihubungkan dengan kata tulis atau lukis. Dengan demikian, asal mula batik dihubungkan pula dengan seni lukis dan gambar pada umumnya. 

Cara membatik 

Alat untuk membatik ialah canting. Terbuat dari bambu, berkepala tembaga serta bercerat atau bermulut, canting ini berfungsi seperti sebuah pulpen.
Canting ini dipakai untuk menyendok lilin cair yang panas, yang dipakai sebagain bahan penutup atau pelindung terhadap zat warna. 
Sebelum pembatik melelehkan lilin di kain putih, banyak langkah yang harus dilalui dulu oleh kain itu. Perkerjaan persiapan berupa pencelupan dalam minyak tumbuh-tumbuhan serta larutan soda, gunanya untuk memudahkan lilin melekat dan zat warna meresap.

Setiap kali kain hendak diberi warna lain, bagian-bagian yang tidak boleh kena zat warna ditutup dengan lilin, sehingga makin banyak warna yang dipakai untuk menghias kain batik, makin lama juga pekerjaan menutup itu. Pada taraf yang penghabisan lilin dibuang dengan merebus kain dalam air mendidih. Sesudah itu kain batik keluar dengan warna-warnanya yang indah serta pola-polanya yang terpilih.


Sejarah Batik di Indonesia

Sejarah pembatikan di Indonesia dikenal sejak jaman Majapahait dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. namun perkembangan batik mulai menyebar pesat pada masa-masa kerjaan Mataram tepatnnya di daerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipengaruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.

Adapun mulai meluasnya pembatikan ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-20 dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia I habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam, banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjuangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan di tempatnya masing-masing.

Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu/pace, puhon tom, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.


Perkembangan Batik di Jawa Barat khususnya di Tasikmalaya

Dilihat dengan peninggalan-peninggalan yang ada sekarang dan cerita-cerita yang turun-temurun, maka diperkirakan di daerah Tasikmalaya batik dikenal sejak zaman “Tarumanagara” dimana peninggalan yang ada sekarang ialah banyaknya pohon tarum di sana yang berguna untuk pembuatan batik waktu itu. Desa peninggalan yang sekarang masih ada pembatikan ialah Wurug terkenal dengan batik kerajinannya, Sukapura, Mangunreja, Maronjaya dan Tasikmalaya kota.

Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian yang terkenal ialah desa Sukapura, Indihiang yang terletak di pinggir kota Tasikmalaya sekarang. Kira-kira akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 akibat dari peperangan antara kerajaan di Jawa Tengah, maka banyak dari penduduk daerah: Tegal, Pekalongan, Banyumas dan Kudus yang merantau dengan keluarganya ke daerah Barat dan menetap menjadi penduduk di Ciamis dan Tasikmalaya dengan melanjutkan pembatikan sbg tata cara hidup dan pekerjaannya. Selain sebagai pengusaha-pengusaha batik di daerahnya, mereka jg ahli dalam pembatikan sebagai pekerjaan kerajinan rumah tangga bagi kaum wanita. 

Dengan datangnya penduduk baru ini, lama kelamaan pekerjaan pembatikan bisa berkembang pada penduduk sekitarnya dan dikenallah pembuatan batik memakai soga yang asalnya dari Jawa Tengah. Produksi batik Tasikmalaya sekarang adalah campuran dari batik-batik asal Pekalongan, Tegal, Banyumas, Kudus yang beraneka pola dan warna. 

Batik dari Sukapura, misalnya, sangat kental dipengaruhi Banyumas. Ini terlihat dari motif dan warna yang cenderung klasik, yaitu didominasi warna coklat.

Dalam buku The Dancing Peacock, Colours and Motifs of Priangan Batik disebutkan, motif yang terdapat dalam batik Garut, Ciamis dan Tasikmalaya di antaranya cupat manggu, rereng dokter, dan bulu hayam.

Di Garut, batik-batik dengan motif tersebut bisa dilihat dalam warna biru tua, merah tua, hijau tua, dan ungu tua, yaitu warna-warna yang muncul karena pengaruh batik Pekalongan. Namun, ketika melihat di Ciamis, batik dengan motif senada bisa dijumpai dengan warna putih, coklat, atau hitam. Adapun di Tasikmalaya, batik bisa dijumpai dalam warna-warna cerah.

Dari sisi ragam hias, setiap daerah juga memiliki ciri masing-masing meski tetap tak lepas dari pengaruh motif daerah lain. Dengan mengutamakan kesederhanaan, batik Ciamis memiliki motif di antaranya parang sontak, rereng seno, ciung wanara, dan batu hiu.

Di Garut, motif batik mengambil inspirasi dari flora dan fauna, selain motif kawung, parang (lereng/rereng), limar, dan sidomukti yang merupakan pengaruh dari batik Solo dan Yogyakarta. Motif-motif dari Solo dan Yogyakarta tersebut kemudian memunculkan variasi, seperti rereng calung, rereng pita, sidomukti kopi tutug, dan sidomukti malati.

Sementara di Tasikmalaya, secara umum ada tiga karakter motif, yaitu batik Sukapura, Sawoan, dan batik Tasik. Batik Sukapura secara sepintas menyerupai batik Madura dengan ragam hias yang kontras dalam ukuran motif dan warna.

Mungkin sebagian orang akan menyebut batik Sukapura kuno, kasar, dengan warna yang tidak cerah. Namun, batik Sukapura yang didominasi warna merah marun, putih gading, dan hitam memiliki konsumen fanatiknya, terutama di Tasikmalaya selatan.

Batik Sawoan adalah batik yang didominasi warna coklat seperti buah sawo ditambah warna indigo dan cecek-cecek warna putih, mirip batik Solo. Adapun batik Tasik memiliki ciri warna-warna cerah karena pengaruh dari batik pesisiran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ShareThis